Lantaran semua orang merasa enggan untuk melakukannya, membuatku tergugah untuk menulis ini.
Bumi Terancam
Penghijauan. Sebenarnya sepele mengartikan kata itu. Kata yang sering diungkapkan tapi belum tentu bisa dipahami. Sebagai mahasiswa, saya mencoba bergerak sesuai dengan kemampuan. Maklum, untuk kampung kecilku, di mana pendidikan tidak menjadi hal penting—karena mereka berprinsip percuma sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya akan jadi pengangguran juga!, nyaris tak peduli tentang apa itu ”penghijauan”.
Apa sih arti penghijauan itu?
Penghijauan atau reboisasi adalah salah satu kegiatan penting yang harus dilaksanakan secara konseptual dalam menangani krisis lingkungan. Begitu pentingnya sehingga penghijauan sudah merupakan program nasional yang dilaksanakan di seluruh Indonesia. (Manfaat Hutan, greenlumut.wordpress.com, 2008)
Penghijauan sebenarnya menjadi faktor utama yang menentukan keselamatan Bumi. Lihat saja sekarang, asap-asap (yang akhirnya menjadi polusi udara) yang berasal dari knalpot kendaraan bermotor dan pabrik-pabrik; membuat atsmosfer semakin tipis. Apalagi pembalakan liar; pohon-pohon ditebang. Belum lagi kabar buruk terakhir; sebagian wilayah Kutub Utara mencair! Hal itu pula yang menyebabkan Greenland, pulau yang ditetapkan sebagai satu dari tujuh harta karun dunia, pun ikut terkena imbasnya. Raib! Efek dari pencairan itu, air laut yang semakin hari semakin tinggi. Pulau-pulau lain yang ada di Bumi pun terancam tenggelam karenanya. O o, mau ke mana kita akan berlindung lagi?
Pagi buta. Di bawah siluet cahaya matahari yang akan menyembul. Saya sudah melangkahkan kaki, melakukan perjalanan ke sebuah kampung di lereng Bukit Sulap, bukit yang menjadi ikon Lubuklinggau. Kampung itu berada di Jalan Bengawan Solo (ini nggak ada hubungannya dengan Sungai Bengawan Solo di Jawa, lho...!).
Bukit Sulap sekarang setengah gundul. Mereka yang tinggal di lereng, hidup dari batu bujang dan batu napal yang ada untuk dibuat ulekan. Sebenarnya, pemerintah sudah berupaya untuk memberikan pengarahan kepada warga, dan mencarikan pekerjaan yang layak dari pada memukul batu, namun tetap saja sebuah gebrakan pemerintah itu diacuhkan oleh mereka dengan berbagai prinsip yang membuatku sedikit pusing mendengarnya.
Saya, sedikit banyak, yang sudah tahu keadaan sekitar Bukit Sulap, melalui pengamatan, tanya jawab dengan warga; akhirnya tergerak melakukan semacam program yang mendukung usaha penghijauan. Perubahan memang sulit dijalankan, tapi kalau ada kemauan, pasti ada jalan. Saya yakin itu!
Jujur, saya pun mulai dari diri sendiri dengan melakukan hal yang paling kecil. Kalian tahu, Kawan. Dengan beberapa teman, Saya menggalang dana yang hasilnya nanti akan kami belikan beberapa bibit pohon. Kami melakukannya door to door. Namun karena dana yang terkumpul kurang memadai. Kami pun sepakat untuk melakukannya on the street. Tindakan kami mendapat respon yang baik dari mereka yang lalu-lalang. Mereka menyisihkan sedikit uang untuk kami. Sampai akhirnya ada juga yang tergerak membantu mencarikan dana. Ada pula yang membantu membuat dan mengajukan proposal ke Pemerintah Kota (Pemkot) dan anggota DPRD. Ternyata proposal yang diajukan ke Pemkot mendapat respon positif. Pemerintah akan membuat semacam proyek objek wisata. Amazing!
Rencana untuk membuat obyek wisata itu pun benar adanya. Lima bulan waktu yang dibutuhkan hingga rencana tersebut terwujud.
Dan ketika launching, Pemkot pun turut serta membuat sebuah program acara pelestarian lingkungan dengan melakukan gerakan menanam 1000 pohon yang dilaksanakan di Bukit Sulap bekerja sama dengan Dandim Kabupaten Musi Rawas, PT. Djarum, Radio Papeja, dan Ormas-ormas lainnya. Syukurlah!
Jalan masih panjang, Kawan. Perjuangan belum usai! Maka, teruslah semangat, Kawan…. Ajak semua rekan untuk menanam—masing-masing satu— pohon di mana pun. Niscaya kita akan melihat bumi kita akan terus hijau. Hijau kembali.
Ya, kalau bukan kita, siapa lagi?!(*)
Lubuklinggau, 19 Februari 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar