Sapuan angin sore terus menyibakkan sayap-sayapnya. Sejuk, tentram, damai, membuat orang terlena dibuatnya. Dan selang beberapa saat, angin yang semula pelan berhembus lama-kelamaan berubah menjadi angin puyuh, semua yang ada disekitarnyapun terbang mengikuti alur angin entah kemana ia akan berlabuh. Gemuruh kilatpun semakin menjadi-jadi seakan-akan kiamat hadir pada hari itu juga.
Begitulah perasaan yang bisa kugambarkan tentang perasaan Reno saat ini yang mendapatkan pesan singkat yang tertera dilayar handphonenya. Entah apa isi ketikan itu Akupun tak tau. Mungkin berita dari penjahit baju tempat reno menempah baju batik waktu itu yang tempahannya tidak selesai sesuai dengan jadwal. Ah, batinku mungkin ini hanya pikiranku saja yang melihat wajah Reno yang memang raut mukanya memang muka sedih istilahnya wajah kasihan ya seperti itulah kira-kira. Aku pun biasa-biasa saja menanggapi hal itu.
Gundah gulana, bingung semuanya campur aduk didalam perasaannya saat ini. Mata kuliah yang masih tersisa 30 menit itupun seakan-akan menjadi penjara bagi reno. Ia yang semula aktif dalam diskusi tiba-tiba mengkerut bak kerupuk yang terkena air. Pandangannya kosong entah sejauh mana matanya menerobos pelapon ruang kuliah kami ini, mungkin sudah sejauh Negara Mesir yang merupakan cita-cita kami untuk menjajaki bangunan segitiga piramida peninggalan kerajaan Fir’aun dan Nabi Musa A.S yang kutahu dari cerita guru-guru sejarah dan juga sering diceritakan Murobbiku dan Reno yang menjadi pembimbingku selama 1 tahun belakang ini.
Sempat kusapa teman seiman ku itu,

