Selamat Datang Di Website Saya
Kuklikaja

Kuklik

Total Tayangan Halaman

Jumat, 09 September 2011

Rekaan Sang Hati


           Sapuan angin sore terus menyibakkan sayap-sayapnya. Sejuk, tentram, damai, membuat orang terlena dibuatnya. Dan selang beberapa saat, angin yang semula pelan berhembus lama-kelamaan berubah menjadi angin puyuh, semua yang ada disekitarnyapun terbang mengikuti alur angin entah kemana ia akan berlabuh. Gemuruh kilatpun semakin menjadi-jadi seakan-akan kiamat hadir pada hari itu juga.
            Begitulah perasaan yang bisa kugambarkan tentang perasaan Reno saat ini yang mendapatkan pesan singkat yang tertera dilayar handphonenya. Entah apa isi ketikan itu Akupun tak tau. Mungkin berita dari penjahit baju tempat reno menempah baju batik waktu itu yang tempahannya tidak selesai  sesuai dengan jadwal. Ah, batinku mungkin ini hanya pikiranku saja yang melihat wajah Reno yang memang raut mukanya memang muka sedih istilahnya wajah kasihan ya seperti itulah kira-kira. Aku pun biasa-biasa saja menanggapi hal itu.
            Gundah gulana, bingung  semuanya campur aduk didalam perasaannya saat ini. Mata kuliah yang masih tersisa 30 menit itupun seakan-akan menjadi penjara bagi reno. Ia yang semula aktif dalam diskusi tiba-tiba mengkerut bak kerupuk yang terkena air. Pandangannya kosong entah sejauh mana matanya menerobos pelapon ruang kuliah kami ini, mungkin sudah sejauh Negara Mesir yang merupakan cita-cita kami untuk menjajaki bangunan segitiga piramida peninggalan kerajaan Fir’aun dan Nabi Musa A.S yang kutahu dari cerita guru-guru sejarah dan juga sering diceritakan Murobbiku dan Reno yang menjadi pembimbingku selama 1 tahun belakang ini.
Sempat kusapa teman seiman ku itu,
            “Hei Akh[1], ada apa gerangan dengan antum[2]?”  bisikku setengah bercanda.

Reno hanya membisu, pertanyaankupun tak digubriknya atau mungkin suaraku terlalu kecil. Dan Kuulang kedua kali pertanyaan ku tadi seraya sedikit mengayunkan  lima jari tangan kananku tepat dihadapannya.
            Akh, ada apa dengan antum kok melamun?” sapaku masih dengan setengah berbisik.
Reno pun sadar dari pikiran kosongnya.
            “ Nggak akh, nggak ada apa-apa?” jawabnya           
            Jam menunjukan 16.25 wib itu artinya 5 menit lagi mata kuliah Organisasi Komputer yang diajarkan Pak Fauzi Andrianto ST, M.kom yang sekaligus ketua jurusan kami (Tekhnik Informatika) yang akan berakhir beberpa menit lagi dan itu berarti selesai mata kuliah ini kami dapat langsung pulang karena mata kuliah hari ini Cuma ada satu mata kuliah. Dan diskusipun selesai, semua mahasiswa yang tampil didepan disuruh kembali ketempatnya masing-masing. Akhirnya kembali Pak Fauzi menambahkan tentang materi yang didiskusikan hari ini dan selanjutnya menutup mata kuliah.
            Kami bergegas berkemas-kemas dan keluar dari ruangan itu. Aku dan Reno langsung kehalaman parkir untuk mengambil motor dan kemudian meninggalkan kampus tersebut. Perlu saya tambahkan bahwa saya dan Reno merupakan perantauan. Ya walaupun tidak terlampau jauh dari  tempat kami sekarang mungkin hanya menghabiskan waktu 4 jam jika mengendarai Roda dua. Kami sekarang tinggal dikota tempat ditemukannya Bunga Rafllessia[3] Kota Bengkulu dan kami sendiri berasal dari Kota Lubuklinggau yang merupakan bagian akhir dari Provinsi Sumatera Selatan bagian mana akupun lupa soalnya kecil banget kalau melihat di PETA. Kami sekarang sudah memasuki semester akhir fakultas komputer jurusan Tekhnik Informatika UNIB[4]. Kamipun tinggal satu kossan berdua yang tidak terlalu jauh dari tempat kuliah kami.
            Kamipun keluar gerbang kampus kami langsung pulang menuju kossan kami. Rumah yang sudah kami huni kurang lebih 3 tahun. Beberapa saat kamipun sampai di kossan sambil memparkirkan Revo keluaran 2008 milik Reno. Tidak banyak yang dilakukan Reno. Membisu saja dan tidak memperdulikan orang lain, mungkin jika kossan kamipun terbakar  ia tidak akan tahu.
            Akupun sebagai sahabat menyapanya dan mempertanyakan kembali apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatku ini.
            “Ayolah kawan, kalau antum ada masalah sebaiknya diceritakan, barangkali ana[5] bisa bantu!!!” tanyaku sambil mendaratkan tanganku di bahunya.
            Gubrakankupun kembali tak dihiraukannya?. Diam dan kembali diam seakan-akan ada ribuan gembok yang mengunci mulutnya itu. Ya sudahlah kupikir, mungkin masalahnya tidak terlalu besar dan ia pun dapat menyelesaikannya sendiri tanpa aku bantu, lebih baik sekarang aku biarkan ia sendiri dulu.
            Mataharipun sudah tampak kembali keperaduannya, sunset nampak jelas terlihat di balik gunung itu, dan kegelapan malam pun telah tiba. Secara tiba-tiba dan tak disangka-sangka Reno mengejutkanku dengan tangan yang mendarat di pundakku….
Ah, bikin kaget saja, aku kira setan dari golongan mana tadi…
Teganya dikau akh ngomong[6] macam itu  sembari menenangkanku…
Yok, sholat maghrib dulu, ajaknya.
Reno terlihat lebih cerah ketimbang yang tadi kamipun bergegas menuju masjid yang tidak jauh dari kossan kami itu untuk sholat maghrib berjama’ah.
Sang Imam pun mulai membacakan Surat al-Fatihah dan surat-surat pendek lainnya yang pertanda bahwa sholat sudah dimulai.
Seusai sholat kamipun pulang ke kosan dan istirahat, tapi tidak dengan Reno ia melanjutkan dengan melakukan tilawah[7] Qur’an sambil menunggu waktu Isya’. Sedangkan aku  membuka laptop ku untuk mencari referensi  materi untuk besok. Aku sibuk mengotak-ngatik keyboard laptop ku dengan mentelusuri Mbah Google. Selang ditengah aku sibuk membaca artikel yang kudapat itu, Reno pun menhampiriku.
            Ouw, rupanya dia sudah selesai tilawahnya? Gumamku dalam hati…..
Renopun mengajakku mengobrol  yang kuterka pasti dia akan menceritakan makna ayat-ayat yang ia baca seusai tilawah tadi, karena biasanya bila ia mendapatkan hal-hal yang baru akan makna ayat-ayat suci yang ia baca itu maka dia akan langsung menceritakan ke orang lain dan itu termasuk aku.
Dengan sedikit ragu Reno akhirnya menceritakannya.
Rupanya tebakanku sedikit meleset kali ini tak sama dengan apa yang aku pikirkan, batinku.
Reno menceritakan permasalahannya yang tadi siang kepadaku disaat rupa wajahnya sangat muram dan mulutnya diam seribu bahasa. Sambil membaringkan tubuh di atas ranjang perlahan reno mulai bercerita.
Akh, ane bingung…..
Bingung kenapa?. jawabku
            Reno memberikan sebuah amplop yang berisikan sebuah surat.
Surat apa akh, surat cinta ya.
Dia hanya mengangguk pelan.
Kubuka perlahan-lahan kertas itu. Tertera nama pengirim surat itu EKA KHOIRIAH ST, MM….
***

Kebingungan Reno ada wajarnya. Sekilas aku ceritakan tentang nama pengirim surat itu EKA KHOIRIAH, ST, MM. kami sering memangiilnya buk eka. Dia adalah pemilik Toko Komputer didepan kampus kami . Kalau berbicara karir. Dia memang mumpuni dalam karirnya. Dia menyelesaikan S1 di ITB[8] mengambil  jurusan Sistem Informasi, kemudian menyelesaikan S2 di UGM[9] mengambil jurusan Manegemen Ekonomi. Tapi ada yang bermasalah dengan Ibu Eka ini sampai dengan sekarang yang tahun depan memasuki usia 40 tahun belum juga menikah. Pernah salah ada seorang tetangga kos ku yang bernama Pak Rahman yang sehari-harinya bekerja sebagai wartawan. Dia pernah PDKT[10] dengan dengan Bu eka, disaat pak Rahman bertanya sudah berapa lama mendirikan Toko ini. Ia tidak menjawab. Ia hanya menulis di secarik kertas yang baru dia buka selepas pertemuan itu. Aku bisu, tulisnya. Itu saja.(*)

LUBUKLINGGAU,  4 FEBRUARI 2011



[1] Saudara (laki-laki)
[2] Kamu (Laki-laki)
[3] Bunga bangkai yang ditemukan oleh ilmuwan asal inggris Thomas Stanford Raffles tahun 1818
[4] Universitas Negeri Bengkulu
[5] Saya
[6] Berbicara
[7] Membaca
[8] Institut Tekhnologi Bandung
[9] Universitas Gajah Mada Yogyakarta
[10] Pendekatan (Istilah anak muda sekarang)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar